Kembali ke blog
#AI #Productivity #Developer Workflow #Tools

Cara Saya Pakai AI untuk Ship 3x Lebih Cepat Tanpa Mengorbankan Kualitas

AI tools tidak menggantikan cara berpikir saya — mereka menghilangkan bagian coding yang membosankan. Ini workflow eksak saya: apa yang saya delegasikan ke AI, apa yang tidak pernah saya lakukan, dan cara menjaga kualitas kode sambil bergerak cepat.

Muhamad Taufik Muhamad Taufik
· Nov 10, 2025 · 6 menit baca
AI and code on screen
Reaksi:

Banyak developer yang merasa AI coding tools itu “cheat” atau “akan membuat kita malas”. Saya tidak setuju. Selama 2 tahun terakhir saya pakai berbagai AI tools — Claude, ChatGPT, Cursor, Antigravity — dan hasilnya: saya ship lebih banyak, lebih cepat, dengan kualitas yang sama atau lebih baik.

Kuncinya: tahu apa yang harus didelegasikan ke AI dan apa yang tetap harus kamu pikirkan sendiri.

Yang Saya Delegasikan ke AI

1. Boilerplate dan repetitive code

// Saya tinggal describe ke AI:
// "Buat TypeScript type untuk response API booking dengan field:
// id, passenger_name, route_from, route_to, departure_time,
// status (pending/confirmed/cancelled), total_price"

// AI generate:
type BookingStatus = "pending" | "confirmed" | "cancelled";

interface BookingResponse {
  id: string;
  passengerName: string;
  routeFrom: string;
  routeTo: string;
  departureTime: Date;
  status: BookingStatus;
  totalPrice: number;
}

Ini yang butuh 5 menit kalau manual, jadi 30 detik dengan AI.

2. CSS/Tailwind styling

Prompt: "Buat card component dengan Tailwind CSS:
- Dark background (#18181B)
- Border tipis yang terang saat hover
- Padding 24px
- Sudut rounded-xl
- Transisi smooth"

3. Regex dan string manipulation

// Prompt: "Buat fungsi yang extract semua URL dari string teks"
function extractUrls(text: string): string[] {
  const urlRegex =
    /https?:\/\/(www\.)?[-a-zA-Z0-9@:%._\+~#=]{1,256}\.[a-zA-Z0-9()]{1,6}\b([-a-zA-Z0-9()@:%_\+.~#?&//=]*)/g;
  return text.match(urlRegex) || [];
}

4. Dokumentasi dan komentar

AI sangat bagus untuk generate JSDoc dari kode yang sudah ada:

/**
 * Menghitung total harga booking dengan mempertimbangkan
 * diskon dan pajak yang berlaku.
 *
 * @param basePrice - Harga dasar tiket
 * @param discount - Persentase diskon (0-100)
 * @param taxRate - Rate pajak (default: 0.11 untuk PPN)
 * @returns Total harga setelah diskon dan pajak
 */
function calculateTotalPrice(
  basePrice: number,
  discount: number,
  taxRate = 0.11,
): number {
  const discountedPrice = basePrice * (1 - discount / 100);
  return discountedPrice * (1 + taxRate);
}

Yang TIDAK Saya Delegasikan ke AI

1. Arsitektur dan keputusan system design

“Apakah kita butuh microservices atau monolith?” — ini harus kamu pikirkan sendiri berdasarkan konteks bisnis.

2. Business logic yang kritis

Kalkulasi harga, aturan bisnis, validasi data penting — ini butuh pemahaman domain yang dalam. AI bisa salah.

3. Review kode AI-generated

Wajib review setiap baris kode yang di-generate AI. Saya tidak pernah paste langsung tanpa baca. AI bisa:

  • Generate kode yang benar secara syntax tapi salah secara logic
  • Pakai library yang deprecated
  • Miss edge cases penting

Workflow Harian Saya

Pagi: Plan apa yang mau dikerjakan hari ini (otak sendiri)

Breakdown task jadi subtask kecil

Untuk setiap task:
  Kalau boilerplate/repetitive → delegate ke AI
  Kalau logic/architecture → pikir sendiri, AI untuk sanity check

Review semua AI output sebelum commit

Testing manual — AI tidak bisa replace ini

Tools yang Saya Pakai

  • Antigravity — editor utama, AI built-in yang context-aware
  • Claude — untuk diskusi approach, explain konsep, review
  • ChatGPT — brainstorming awal, ideasi

Kesimpulan

AI tidak membuat saya malas. AI mengambil bagian yang membosankan supaya saya bisa fokus ke bagian yang butuh thinking dan kreativitas. Hasilnya: lebih banyak feature shipped dengan lebih sedikit burnout.

Komentar (0)

Bergabung dalam percakapan

Anda harus masuk untuk meninggalkan komentar atau reaksi.

Memuat komentar...